HOME

Minggu, 18 September 2011

Tanbih


بسم الله الرحمن الرحيم

TANBIH

 

            Tanbih ini dari Syekhuna Almarhum Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Mu hammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya kajembaran Rahmaniyah .Sabda beliau kepada khususnya segenap murid–murid pria maupun wanita tua maupun muda .
            Semoga ada dalam kebahagiaan, dikarunia Allah Subhanahu wa ta’ala keba hagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam ling kungan kita sekalian.
            Kita sering mendengar dari para mubaligh bahwa para nabi alaihimus shalatu wasalamu kecuali Nabi kita Muhammad saw apabila umatnya durhaka maka  umat nya yang durhaka itu oleh Allah diturunkan ‘azab, seperti contoh umatnya Nabi Allah Nuh, yang umatnya ditenggelamkan, karena tidak iman, umat nabi Allah Luth yang tidak iman juga kena siksa dengan buminya ambles, dan lain sebagainya.Tetapi umat Nabi Muhammad saw tidak demikian bahkan beliau mem berikan syafa’at kepada umatnya dihari akhir nanti, sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhari bahwa pada waktu umat manusia membutuhkan syafa’at ternyata nabi-nabi selain nabi Muhammad saw semuanya tidak sanggup memberikan syafa’at, hanya beliaulah yang sanggup memberikan syafa’at. Kalau kita resapi washiat Abah Sepuh ini adalah tepat sekali dengan tuntunan Nabi Besar Muhammad saw, karena  mendo’akan murid-muridnya agar tidak timbul keretakan. S 3/103
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.
            Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman adil dan makmur dhohir maupun bathin.
                        Kita resapi pula dari bunyi diatas bahwa ternyata Abah membawakan muridnya agar melakukan kerjasama dengan penguasa, seperti sering kita dengar dari berbagai organisasi mubalig. Sering kita mendengar baik di layar TV maupun langsung dari ceramah ceramah  sebuah hadits yang menyatakan

كُلّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّ رَاعٍ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَتِهِ

Kamu sekalian adalah penggembala (pengurus) yang akan ditanya tentang yang diurusnya (ditanya tentang pertanggungjawabannya). Bila kita ingin makmur dohir batin  Al Qur’an pun menjelaskanٍ  S 7 /96
وَلَوْ اَنّ َاَهْلَ اْلقُرَى اَمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكاَتٍ مشنَ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ
Jikalau sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Dalam Tanbih ini sudah di sebutkan .yg sesuai dengan S 34 /15
لَقَدْ كَانَ لِسَبَاءْ فِي مَسَكِنِهِمْ اَيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِيْنٍ وَشِمَالٍ كُلُوْا مِنْ رِزْقِ رَبّكِمُ ْوَاشْكُرُواْ لَهُ بَلْدَةٌ  طيبة وَرَبّ ٌغَفُورْ
Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) ditempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri (kepada mereka dikatakan) Makanlah olehmu dari rizqi yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan ber syukurlah kamu kepada Nya. (Negerimu)  adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu ) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.    
            Pun kami tempat orang bertanya tentang THOREQAT QOODIRIYYAH  WAN NAQSYABANDIYAH  menghaturkan dengan tulus ikhlash
            Kita hormati guru kita begitu merendahkan diri (tawadu) yang hanya menga ku  tempat orang bertanya,  itu sesuai denga Firman Allah  S 16 /43
فَسْئَلُواْ اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُونْ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak tahu.
Dan guru kita sudah mengatakan dengan tulus ikhlash dalam menyampaikan  dengan tulus ikhlash, apakah kita sebagai muridnya tidak bertulus ikhlash ? Adalah sangat tidak baik kalau seorang murid tidak tabi’ kepada gurunya, yang dalam hal ini  Guru sudah menyatakan ikhlash kita pun wajib ikhlash .Al Qur’an menyebutkan S 98 /5
وَمَا اُمِرُواْ اِلاَّ لِيَعْبُدُواْ اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُواْ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْا الزَّكَاةَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah  dengan memurnikan keta’atan kepada Nya (dalam menjalankan ) agama  dengan lurus  dan supaya mereka  mendirikan shalat  dan menunaikan zakat .
            Disini guru sangat bertawadu’, apakah kita tidak meniru bertawadu’
            Washiyat kepada segenap murid-murid: berhati hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan AGAMA maupun NEGARA .  
            Guru kita mengajak untuk ber amar ma’ruf nahi munkar, kita sebagai murid yang disayangi guru tentunya wajiblah kita juga belajar ber amar ma’ruf nahi munkar, dalam bentuk washiyat karena Al Qur’an menyatakan S 7 /199

خُذْ اْلعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينْ

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpaling lah daripada orang-orang yang bodoh. Dan washiyat itu sendiri  diperintahkan Allah sebagaimana di Firmankan dalam S 103 /3
اِلاَّ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا باْلحَقّ ِوَتَوَاصَواْ بِالصَّبْرِ
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehart menasehati supaya menta’ati  kebenaran dan  nasehat menasehati  supaya menetapi kesabaran .
            Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikian sikap manusia yang tetap dalam ke Imanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadirat Ilahi yang membuktikan  perintah dalam AGAMA maupun NEGARA.
            Kita perhatikan bahwa washiyat ini agar kita menta’ati segala peratu ran dan segala etika hidup yang dicanangkan oleh agama maupun oleh penguasa seba gaimana disebutkan dalam Al Qur’an S 4 /59
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُواْ اَطِيْعُواْ اللهَ وَاَطِيْعُواْ الرَّسُوْلَ وَأثوْلِى اْلاَمْرِمِنءكثمْ  فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدّوُهْ ُاِلَي اللهِ وَالرَّسُوْلِ  اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلاَخِرِذَلِكَ خَيْرٌ وَاَحْسَنُ تَأْوِيْلاً
Hai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilan Rasul ( Nya ) dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Karena orang yang mengikuti petunjuk Allah dan mengikuti aturan hidup serta ta’at kepada yang berwenang, tidak akan sulit hidupnya sebagaimana disebutkan dalam S 2 /38
فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونْ .
Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
            Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan syetan, waspadalah akan jalan penyelewengan  terhadap perintah AGAMA maupun NEGARA agar dapat meneliti diri, kalau-kalau tertarik oleh bisikan Iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita semua.

            Ini merupakan peringatan bagi ikhwanul muslimin sekalian ,bahwa syetan selalu mengajak kita kearah yang salah,siang maupun malam selalu membisikkan kita untuk salah, sebagai contoh pada waktu shalat sampai-sampai kita lupa ingat kepada Allah dan ingat kepada yang lainnya, bahkan sampai terjadi lupa sudah berapa raka’at kita shalat .Larangan mengikuti ajakan syetan sesuai S 2 /208

يَاأَيّهُاَ الَّذِيْنَ أَمَنُواْ ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَافَةْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌ مُبِينْ

Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam Islam keseluruhannya , dan janganlah kamu turut langkah- langkah syetan.Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.
  Lebih baik buktikanlah kebajikan yang timbul dari kesucian :
1.Terhadap orang –orang yang lebih tinggi daripada kita. baik dohir maupun batin harus kita hormati, begitulah seharusnya  hidup rukun  saling harga menghargai Ikhwanul muslimin rahimahumu Allah kita sebagai ikhwan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dituntut pula untuk membuktikan kebajikan–kebajikan, dianta ranya  pada nomor pertama ini wajib menghormati orang yang lebih tinggi baik dohir maupun batin.  Al Qur’an menegaskan dalam S 17/23+24.
وَقَضَى رَبُّكَ اَلاَّ تَعْبُدُواْ ِالاَّ اِيَّاهُ وَبِاْلوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاإِمَّايَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَا اَوْكِلاَهُمَا فَلاَتَقُلْ
لَهُمَا أُفّ ٍوَلاَ تَنْهَرْهُمَاوَقُلْ لَهُمَاقَوْلاً كَرِيْمًا وَاخْفِضْ لَهُمَاجَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ
رَبِّ اْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan  menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha raanmu, maka sekali kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya  perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku  waktu kecil “
Dalam hadits Nabi riwayat Tobroni disebutkan
لَيْسَ مِنّاَ مَنْ لمَ ْيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلمَ ْيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيْرَنَا وَلَيْسَ مِنّاَ مَنْ غَشّنَاَ, وَلاَ يَكُوْنُ اْلُمْؤِمُنْونَ مُؤْمِنًا حَتّىَ يُحِبّ َلِلْمُؤْمِنِيْنَ مَا يُحِبّ ُلِنَفْسِهِ  (رواه الطبراني )
Tidak termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi kepada yang lebih kecil (muda) dan tidak mengetahui kewajibannya terhadap orang yang lebih besar (tua). Bukanlah termasuk golonganku orang yang menipu kami, seorang mukmin tidak /belum dikatakan beriman sehingga ia mencintai orang mukmin  yang lain, seperti mencintai terhadap diri sendiri  (HR Tabrani dari Domroh).2.Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaiknya harus bersikap rendah hati, bergotong-royong dalam melaksanakan perintah AGAMA maupun NEGARA, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau kalau kita terkena ‘ADZABUN ALIM yang

berarti duka nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai akhirat (badan payah hati susah)

                        Untuk ikhwanul muslimin Allah, Allah ber Firman dalam S 4 /28

يُرِيْدُ اللهُ اَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ اْلاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu  dan manusia dijadikan bersifat le mah. Dalam hadits  riwayat Bukhari disebutkan
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَاْلبُنْيَانِ اْلوَاحِدِ يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا (رواه البخاري)
Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya, tak ubahnya bagaikan sesuatu ba ngunan yang  bagian bagiannya  (satu sama lain) kuat menguatkan . HR Bukhari
            Dalam hadits lain juga Nabi mengatakan    HR Baihaqy :
مَنْ مَشِيَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ وَبَلَغَ فِيْهَا كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنْ اِعْتِكَافِ  عََِ سِنِيْنَ وَمَنْ اِعْتَكَفَ يَوْمًا ِاْبِتغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ ثَلاَثَةَ خَنَادِقَ اَبْعَدُ مِمّاَ بَيْنَ الْخَافِقَيْنِ
Barangsiapa yang berjalan untuk mengusahakan kebutuhan saudaranya, dan usaha itu berhasil sampai kepadanya, itu lebih baik daripada ber I’tikaf sepuluh tahun. Dan barangsiapa beri’tikaf satu hari untuk mencari keridoan Allah maka Allah me njauhkan antara dia dengan neraka sejauh tiga parit yang lebih jauh dari antara ujung bumi sebelah barat dan timur. 

3.Terhadap orang yang keadannya dibawah kita janganlah hendak menghi nakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh ,sebaliknya harus belas kasi han dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, Jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yang lemah lembut  yang akan memberikan keinsyafan da lam menginjak jalan kebajikan.

            Ikhwanul muslimin rahimakumu Allah, kita semuanya tahu baik secara turun temurun dari nenek moyang kita maupun dari pelajaran  dari guru di sekolah atau dari guru ngaji ataupun dari pergaulan bahwa kita wajib berlaku baik kepada orang yang dibawah kita . Al Qur’an S 15 /88
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِيْنً
Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman .

Dalam hadits  riwayat Muslim diterangkan pula
اٍنَ اللهَ اَوْحَى اِلَي اَنْ تَوَاضَعُواْ حَتّىَ لاَيَفْخَرُ اَحَدٌ عَلىَ اَحَدٍ وَلاَيَبْغِي اَحَدٌ عَلَى اَحَدٍ
Bahwasanya Allah telah mewahyukan kepadaku “ Bertawadu’”(merendahkan diri) hingga tak ada seorang pun yang menganiaya terhadap lainnya, dan tidak ada seorangpun yang menyombongkan dirinya terhadap yang lainnya.
لَيْسَ مِنّاَ مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلمَ ْيَعْرِفْ  شَرَفَ كَبِيْرَنَا (رواه ابو داود والترمذي)
Bukan dari umatku orang yang tidak belas kasihan kepada yang lebih kecil dan tidak menghargai kehormatan yang lebih tua . HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ِِِAhmad
مَنْ قَالَ لِصَبِيّ ٍ: تَعَالَى هَاكَ ثُمّ َلمَ ْيُعْطِهِ فَهِيَ كِذْبٌ (رواه أحمد )
Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil “mari kemari, saya beri ini “  kemudian tidak memberinya , maka hal itu merupakan perbuatan bohong . 

4 Terhadap fakir miskin harus kasih sayang, ramah-tamah  serta bermanis budi, bersikap murah tangan  mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah  yang senang, karena mereka jadi fakir miskin itu
bukannya  kehendak sendiri, namun kudrat Tuhan   

Termasuk kepada orang yang perekonomiannya /pengetahuannya /pengala mannya/ dibawah apa yang kita miliki. Maka dari itu orang fakir , orang miskin , dan anak yatim . S 107 /1-3.
اَرَاَيْتَ الَّذِي يُكَذّبِ ُبِالدّيِنْ ِ*فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعّ ُالْيَتِيْم * وَلاَ يَحُضّ ُعَلَى طَعَامِ اْلمِسْكِينْ
Tahukah kau orang yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim .Dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin .
            Demikianlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun terhadap orang asing, karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a.s mengingat  surat Isro ayat70(S 17 /70)
وَلَقَدْ كَرّمَنْاَ بَنِي أدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي اْلبَرّ ِوَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاُهْم مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ
عَلَى كَثِيْرٍ مِمّنَ ْخَلَقْنَا  تَفْضِيْلاً
Sangat Kami muliakan keturunan Adam dan Kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, dan Kami beri mereka rizqi yang ada didarat dan dilautan, juga Kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya .
                        Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga meng hargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat surat Maidah  S 5 / 2
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلبِرّ ِوَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلاِثْمِ وَالْعُدْوَانْ
Dan hendaklah tolong–menolong dengan sesama dalam  melaksanakan kebajikan  dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap Agama maupun Negara ,seba liknya janganlah tolong menolong  dalam berbuat dosa dan permusuhan  terhadap perintah Agama maupun Negara.
            Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing mengingat surat Al Kafirun ayat 6 
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِينْ
Agama kamu untuk kamu  agamaku untuk aku. Maksudnya janganlah terjadi perse lisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi ja nganlah  sekali kali ikut campur.
            Cobalah renungkan pepatah leluhur kita: Hendaklah kita bersikap budiman ter tib dan damai, andaikan tidak demikian pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemu dian tak berguna. karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat  dari amal perbuatan  diri sendiri. Dalam surat Al Nal ayat 112 (S16 / 112)
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ اَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكََانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللهِ
 فَاَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْن
Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan beberapa contoh yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi,namun penduduknya/penghuninya meng ingkari nikmat-nikmat Allah, maka la lu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan  yang disebabkan sikap dan perbuatan  mereka sendiri. 

            Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid–murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dohir batin, dunia maupun akhirat, supaya hati tentram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya  BUDI UTAMA JASMANI SEMPURNA  (cageur bageur )

            Bagi Ikhwanul muslimin rahimakumu Allah kalau kita resapi kata cageur disini sebenarnya mengandung arti melakukan pekerjaan dengan disiplin dan hasilnya positip sehingga orang lain pasti menilai bagus, sedangkan bageur disini mengandung arti  bahwa dia biasa kerjasama, dapat melakukan tolong menolong. sehingga  orang lain tidak sulit bila membutuhkan pertolongan dia, baik pertolongan berupa materi yang dia mampu ataupun pertolongan yang non materi   

            Tiada lain amalan kita TOREQAT QODIRIYAH WAN NAQSYABANDIYAH amalkan sebaik baiknya guna mencapai segala kebajikan  menjauhi segala kejahatan dohir batin  yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.

            Washiyat ini harus dilaksanakan  dengan seksama oleh segenap murid murid  agar supaya mencapai keselamatan DUNIA dan AKHIRAT . Amiin.
                                                           
                                                                 Patapan Suryalaya 13 Pebruari 1956
                                                                                            Ttd
                                                                H.A. SHOHIBULWAFA TAJUL’ARIFIN. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More